terakurat.comsutradara-bong-joon-ho– Bong Joon Ho dinobatkan sebagai sutradara terbaik. Mengalahkan nominasi lainnya seperti Todd Philips (Joker), Sam Mendes (1917), Quentin Tarantino (Once Upon A Time..In Hollywood), dan Martin Scorsese (The Irishman). Bong Joon Ho menjadi sutradara asal Korea pertama yang meraih Oscar atas karya film yang dibuatnya.

Tumbuh di Keluarga Seniman.

Bong Joon Ho lahir di Daegu, Korea Selatan pada 14 September 1969. Bong Joon Ho kecil tumbuh di ekosistem keluarga yang menjunjung tinggi kesenian. Ayah Bong Joon Ho merupakan seorang desainer dan kakeknya adalah penulis kawakan di Korea Selatan. Kakak laki-laki Bong Joon Ho adalah professor sastra Bahasa Inggris di Seoul National University, sedangkan kakak perempuannya adalah fashion designer.

Ingin Menjadi Sutradara Sejak Masih SMP Namun Ditentang Orang Tua.

Bong Joon Ho memutuskan untuk menjadi sutradara ketika masih di bangku SMP. Bong Joon Ho kuliah di Sosiologi karena mendapat pertentangan dari kedua orang tuanya untuk kuliah di bidang film. Namun Bong Joon Ho mendirikan klub bernama “Cineclick” yaitu klub diskusi tentang media massa dan media seni, termasuk film.

Kesukaan Bong Joon Ho dengan film dibuktikan dengan ia menggemari film-film karya sutradara Edward Yang, Hou Hsiao-hsien dan Shohei Imamura. Bong Joon Ho berkali-kali mempelajari film-film tersebut untuk mempelajari teknik penyutradaraannya. Dalam sebuah wawancara, Bong joon Ho mengatakan bahwa apabila ia suka dengan suatu film, ia akan mengulang-ulang menontonnya.

Di awal tahun 1990an, Bong Joon Ho menyelesaikan program singkat 2 tahun di Korean Academy of Film Art. Disana Bong Joon Ho sering membuat film pendek dengan menggunakan kamera 16mm. Dua film Bong Joon Ho untuk kelulusan yaitu Memory Within the Frame dan Incoherence diundang screening di Vancouver dan Hong Kong International Film Festivals.

Baca juga  Film Dora and The Lost City of Gold, gaet Danny Trejo Jadi Boots !

Selama lima tahun pasca lulus dari Korean Academy of Film Art, Bong Joon Ho masih bekerjasama dengan sutradara lain untuk menggarap film. Bong Joon Ho berkontribusi dalam penulisan skenario film bersama seperti : Seven Reasons Why Beer is Better Than My Lover (1996), Park Ki-yong’s Motel Cactus (1997), Save the Green Planet!, Phantom the Submarine (1999).

Film Pertama Bong Joon Ho Langsung Dapat Pengakuan Internasional.

Barking Dogs Never Bite yang diproduseri oleh Cha Seung Jae merupakan film pertama Bong Joon Ho. Film tersebut menceritakan seorang dosen yang menculik anjing tetangganya dan cerita kompleks di sebuah apartemen tempat Bong Joon Ho tinggal setelah menikah.

Walaupun Film Bong Joon Ho tersebut kurang mendapat respon dari penonton di Korea Selatan, namun film tersebut diundang di San Sebastian International Film Festival dan memenangkan penghargaan di Slamdance and Hong Kong.

Berkat penghargaan dan penjualan di internasional, film Bong Joon Hon tersebut bisa melunasi biaya produksi yang selama dua tahun pascaproduksi belum terlunasi.

Film Kedua Bong Joon Ho Jadi Film Paling Hits di Korea Tahun Itu dan Raih Banyak Penghargaan.

Memories of Murder yang rilis pada tahun 2003. Film tersebut merupakan proyek film sekala besar yang diadaptasi dari peristiwa nyata pembunuhan berantai di Provinsi Yeonggi antara tahun 1986 hingga 1991.

Proses pembuatan film yang lama dan mengalami banyak rintangan karena tempat syuting yang bermacam-macam membuahkan hasil, karena nama Bong Joon Ho menjadi perbincangan di Korea Selatan melalui film tersebut.

Film Memories of Murder terjual lebih dari lima juta tiket dan mendapat penghargaan sebagai Best Picture, Best Director, Best Actor (Song Kang Ho) dan Best Lighting di Grand Bell Award di Korea Selatan 2003.

Baca juga  Selain Tampan, Aktor Korea Ini Juga Baik Hati.

Meskipun tidak diundang di Cannes Festival Film dan Venice Festival Film, film besutan Bong Joon Ho ini menerima premier internasionalnya kembali di San Sebastian. Di sana Memories of Murder mendapatkan tiga penghargaan film termasuk Bong Joon Ho sebagai sutradara terbaik.

Memories of Murder juga menerima sambutan kritik yang luar biasa kuat pada perilisannya di negara asing seperti Prancis dan Amerika Serikat.

Pernah Buat Film Fantasi.

Film selanjutnya adalah The Host yang merupakan ambisi baru karier Bong Joon Ho di industri film Korea Selatan. Dengan anggaran USD 12 juta yang menceritakan perjuangan satu keluarga melawan seekor monster yang tumbuh di Sungai Han dan mengamuk di Kota Seoul.

Film garapan Bong Joon Ho tersebut lagi-lagi laku keras di Korea Selatan dengan tiket terjual lebih dari 13 juta lembar. Selain itu Majalah Sinema dari Perancis, Cahiers du Cinema memuji Bong Joon Ho dengan sebutan Woody Allen-nya Asia, karena bakatnya dalam memadukan unsur-unsur yang heterogen dengan cara yang halus lagi mulus.

Film Mother Jadi Film yang Berhasil di Korea.

Film hits selanjutnya dari Bong joon Ho adalah Mother yang dirilis tahun 2009. Bercerita tentang perjuangan seorang ibu yang membela anaknya yang terbelakang mental dan dituduh melakukan pembunuhan terhadap seorang gadis. Film ini juga mendapat banyak penghargaan sebagai Best Film, Best Director, Best Screenplay hingga Best Actrees.

Buat Film Netflix.

Setelah sukses dengan Mother, Bong Joon Ho membuat film berjudul Snowpiercer yang dirilis tahun 2012. Film ini diadaptasi dari komik Perancis, novel grafis perancis Le Transperceneige karya Jacques Lob, Benjamin Legrand dan Jean-Marc Rochette.

Film Snowpiercer berlatar planet bumi yang sudah membeku (kembali ke zaman es) dan terancam punah. Hanya ada kereta api yang memutari bumi berulang-ulang dengan energi abadi. Dengan film tersebut Bong Joon Ho mampu menyabet Best Director di 34th Blue Dragon Film Awards 2013.

Baca juga  Live-Action Yang Akan Tayang Hingga Tahun 2020.

Setelah vakum selama 5 tahun, Bong Joon Ho yang bekerjasama dengan Netflix. Ia merilis film baru yang berjudul Okja di tahun 2017. Film tersebut bercerita tentang Bong babi jinak, pemalu, dan introvert yang bersahabat dengan seorang gadis. Film Okja besutan Bong Joon Ho terseut premier di penghargaan film Cannes Film Festival 2017.

Berjualan Donat.

Saat bergabung dengan klub film zaman sekolah, Bong pernah menjual donat di kantin sekolah selama enam bulan demi membeli kamera. Ia bahkan pernah tertidur sambil memegang kamera itu.

Sulit Mendapat Investor.

Bong merasa kesusahan mendapat investor untuk produksi film Park. Bong bekerja part time dengan membuat video pernikahan. Saat orang tua mempelai menangis haru atau mantan kekasih datang, ia mengambil video close up.

Pantang Menyerah.

Ia berpikir untuk menyerah mengingat film-film pertamanya tak sukses di pasar. Tahun 1998, Bong berdiskusi dengan istrinya dan meminta kesempatan satu tahun lagi untuk all out membuat film dengan uang tabungannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here