Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Posisinya yang strategis memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi, dan pariwisata.

Keindahan alam yang dimiliki Indonesia juga cukup banyak yang diangkat menjadi sebuah film layar lebar, baik itu film nasional maupun film yang berasal dari luar negeri seperti yang dibintangi oleh Julia Roberts.

Berikut ini 10 Film yang Memperlihatkan Pesona Keindahan Alam Indonesia:

Eat, Pray, and Love.

Film ini bercerita tentang perjalanan seorang wanita yang berlibur keliling dunia untuk menemukan jati dirinya. Setelah perceraian yang dialami membuatnya berada dalam kondisi perasaan yang kurang baik dan menyedihkan, kemudian ia berkeliling dunia untuk menemukan hal-hal baru yang menarik untuk hidupnya.

Film ini juga merupakan film yang sangat ditunggu di Indonesia. Karena, beberapa adegan melakukan pengambilan gambar di Indonesia salah satunya keindahan Bali. Film ini diarahkan oleh Ryan Murphy, dan dibintangi oleh Julia Roberts dan Javier Bardem. Selain itu film ini juga diangkat berdasarkan kisah nyata.

Laskar Pelangi.

Merupakan sebuah film yang diadopsi dari novel fenomenal “Laskar Pelangi” karya Penulis terkenal asal belitung Andrea Hirata. Film ini mengambil setting di akhir tahun 70-an. Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.
Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.

Baca juga  Sinopsis Film Anna, Si Pembunuh Cantik yang Terlatih.

5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing. Mereka bagaikan warna pelangi dengan karakter yang beragam dan indah. Mereka berjuang untuk bisa terus sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat untuk sekolah mereka.

Negeri 5 Menara.

Alif merupakan seorang anak yang lahir di pinggir Danau Maninjau. Ia tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan tentu mandi di air biru Danau Maninjau.

Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi seperti pak Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.

Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam selalu menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk.

Di mata mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Mirror Never Lies.

Kekayaan kehidupan laut di Wakatobi dan kebijakan local suku Bajo direkam dan divisualisasikan melalui film drama tentang seorang gadis kecil bernama, Pakis. Ia berusaha menemukan sang ayah yang hilang saat berada di lautan. Pakis melakukan ritual suku Bajo, mereka percaya dengan menggunakan cermin yang hilang akan kembali pulang.

Baca juga  Kucumbu Tubuh Indahku, Kalahkan 70 Negara.

Pakis berharap dan terus menanti melihat bayangan ayahnya. Namun, apa yang diharapkannya tak kunjung terlihat. Harapan Pakis tersebut sering dihancurkan oleh ibunya,

Tayung yang berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya. Penyangkalan yang dilakukan Tayung membuat ia memakai bedak putih di wajahnya, sebuah tradisi di suku Bajo. Meskipun coba untuk dihancurkan oleh ibunya, namun harapan Pakis tetap besar. Bersama sahabat karibnya, Lumo, Pakis terus mencari jawaban di Laut Wakatobi.

Persoalan dan konflik Pakis dengan ibunya semakin pelik ketika Tudo, seorang peneliti lumba-lumba datang kedalam hidup mereka. Ke empat karakter ini kemudian saling berinteraksi di kehidupan sehari-hari dan mereka juga punya penafsiran masing-masing terhadap laut. Namun, mereka sepakat bahwa lautlah yang membantu mereka untuk menemukan jati diri mereka.

Denias, Senandung Diatas Awan.

Film ini bercerita tentang perjuangan seorang anak suku pedalaman Papua yang bernama Denias. Seorang anak yang berjuang mendapatkan pendidikan yang layak. Seluruh setting lokasi dilakukan di pulau Cendrawasih. Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata seorang anak Papua yang bernama Janias.

Sebuah film yang wajib ditonton oleh mereka yang mengaku peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah film yang dapat membuka pandangan kita tentang betapa pendidikan yang layak di negeri ini masih terbilang sangat mahal, masih rumit dan banyak terjadi diskriminasi yang tidak masuk akal. Dalam film ini juga bisa kita lihat keindahan provinsi Papua yang berhasil direkam dengan begitu indahnya.

Pertualangan Sherina.

Ayah Sherina (Sherina Munaf), yaitu Darmawan (Mathias Muchus), merupakan seorang insinyur pertanian. Ia mendapatkan pekerjaan di bidang pertanian sesuai dengan impiannya. Oleh karena itu, Sherina harus ikut pindah ke Bandung Utara. Di sekolahnya yang baru, alih-alih mendapat teman baru, ia malah mendapat musuh bernama Sadam (Derby Romero). Sadam ternyata anak dari majikan ayahnya, Ardiwilaga (Didi Petet).

Baca juga  Rekomendasi Film Yang Bisa Bantu kamu Move On !

Hal tersebut diketahui Sherina saat berliburan ke rumah Ardiwilaga. Dalam sebuah peristiwa tak terduga, permusuhan kedua anak itu berubah menjadi persahabatan. Keduanya diculik oleh Pak Raden (Butet Kertaradjasa), suruhan Kertarejasa (Djaduk Ferianto), yang ingin menguasai tanah pertanian Ardiwilaga, untuk proyek propertinya.

Dalam film ini banyak potongan gambar yang menunjukan keindahan kota Bandung khususnya Lembang. Indahnya kebun teh dan Observatorium Bosscha juga tak luput dari sorotan kamera.

About Author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here