Mengatasi Kecanduan Gawai Pada Anak.

Gawai atau gatged merupakan suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Perbedaan gawai dengan teknologi yang lainnya adalah unsur pembaruan yang berukuran lebih kecil.

Contohnya: Komputer adalah alat elektronik yang memiliki pembaruan dan bentuk gawainya yaitu laptop/notebook/netbook, Telepon rumah merupakan alat elektronik yang memiliki diperbarui menjadi telepon seluler.

Anak-anak Menderita Gangguan Jiwa Akibat Gawai.

Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa dalam waktu beberapa tahun ini, mulai mengadakan perawatan pasien anak yang mengalami gangguan kejiwaan. Berdasarkan catatan medisnya hasil pemeriksaan tersebut, diketahui bahwa gangguan jiwa yang kini menjangkit kelompok anak-anak dipicu oleh penggunaan gawai (gadget).

Untuk remaja belasan tahun, ponsel merupakan kehidupan. Mereka sulit terpisah dengan ponsel meski hanya sebentar. Aktivitas yang mereka lakukan lebih banyak bersifat hiburan seperti Instagram dibandingkan untuk mengakses informasi. Tren ini terjadi hampir seluruh anak diusia remaja.

Menurut organisasi nirlaba, MediaSmarts yang berfokus pada literasi, lebih dari separuh anak berusia 10-13 tahun memiliki smart phone. Organisasi di Kanada itu mengungkap jumlah kepemilikan smart phone akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia mereka.

Smart Phone memang punya banyak fitur dan layanan yang mengasyikkan. Tidak heran jika banyak orangtua menganggap kecanduan ponsel pintar sebagai sumber masalah antara orangtua dan anak. Sebagai orangtua yang peduli terhadap tumbuh kembang anak, pasti sangat miris dengan perilaku tersebut.

Yang sangat disayangkan, sebagian orangtua cenderung lebih reaktif. Mereka mengomel dan membentak saat melihat anak mereka menghabiskan waktu dengan smart phone. Berikut ini beberapa cara berkomunikasi dengan anak tanpa perlu membentak mereka.

Jadikan Ponsel sebagai Perhatian Bersama.

Menyuruh anak berpisah dengan ponsel sama sulitnya dengan meminta orangtua untuk tidak mengangkat telepon. Keduanya sama-sama membuat penasaran. Rasa penasaran itulah yang membangkitkan gairah ketika ada pemberitahuan. Fenomena ini dikenal dengan istilah respon intermiten.

Baca juga  Sepeda Hybrid Terbaik

Orangtua bisa memberitahu tentang bagaimana mereka harus mematikan pemberitahuan untuk menghentikan kebiasaan itu. Orangtua juga bisa menunjukkan cara agar anak tidak lagi hanya terpaku dengan ponsel mereka.

Hindari menjelekkan teknologi.

“Orangtua harus tahu bahwa anak-anak menyukai media. Semua orang suka media. Jadi, jika orangtua bersikap negatif, anak-anak akan mengabaikan,” ujar Johnson. Daripada menghina teknologi, lebih baik bicara tentang manfaat ponsel.

Lalu tunjukkan manfaat lain ketika sedang tidak bersama ponsel, misalnya bergaul dan bermain bersama teman-teman. “Kasih mereka masukkan bahwa hal itu bisa berdampak negatif pada sisi lain kehidupan mereka,” kata Johnson. Perlu juga menunjukkan tanggapan cepat bermedia sosial. Misalnya cepat tanggap memberi ikon suka pada unggahan teman.

Buat Kesepakatan Bersama.

Orangtua bisa berdiskusi untuk menentukan waktu bagi anak-anak dalam menggunakan ponsel, begitu pula menentukan zona tanpa ponsel. Semua anggota keluarga wajib mematuhi kesepakatan bersama tersebut. “Orangtua harus menjadi panutan. Anak-anak meniru kebiasaan berponsel dari orang dewasa,” terang salah seorang pendiri Parenting Power, Gail Bell.

Gunakan Argumen Berbasis Fakta dan Riset.

Argumen berbasis bukti ilmiah tampaknya tidak selalu efektif. Argumen ketergantungan ponsel dapat mengganggu perkembangan remaja dan dengan mudah dipatahkan oleh mereka. Tentukan argumen yang tepat, seperti terlalu lama menatap layar ponsel sebelum tidur dapat mengurangi kualitas tidur.

Tentukan waktu maksimal penggunaan gadget.

Waktu interaksi anak terhadap perangkat digital, termasuk aktivitas menonton TV, tentukan berdasarkan dengan usianya. Berikut rekomendasi dari American Academy of Pediatrics:

– Lahir – 18 bulan: tidak boleh sama sekali jangan berhubungan dengan layar gadget, termasuk TV. Satu-satunya pengecualian yang dapat ditoleransi adalah ketika sedang melakukan video call dengan kerabat dekat seperti kakek-nenek tercinta.

– 2 – 5 tahun: anak di rentang usia tersebut disarankan agar tidak menghabiskan lebih dari 1 jam dalam menatap layar gadget, termasuk smartphone, tablet, TV dan komputer.

Baca juga  Kecerdasan Habibie Menurun Hingga ke Anak Cucunya.

– Di atas 6 tahun: untuk anak di atas umur tersebut, pengaturan waktu dalam berinteraksi menggunakan perangkat digital pun diperlukan.

Para spesialis umumnya memberi saran maksimal 2 jam per hari. Gadget juga ditegaskan tak boleh merampas waktu anak dari jam tidur, aktivitas fisik, dan aktivitas lain yang diperlukan untuk tumbuh-kembang anak.

Jangan cuma melarang, berikan saran.

Para orang tua disarankan agar tidak hanya sekadar melarang anak-anak memakai gadget, tetapi juga minta mereka untuk melakukan aktivitas lain.

Melihat pada usia dan minat anak, akan lebih baik lagi jika orang tua juga dapat memberikan saran aktivitas menarik lainnya yang dapat dilakukan bersama-sama seperti berolahraga, hiking, atau memancing.

Beri contoh.

Anak-anak pada dasarnya pasti meniru orang tua. Nah, sebelum melarang anak-anakmu untuk tidak menggunakan gadget, coba ingat dulu seperti apa interaksimu dengan gadget. Jika kamu juga tidak pernah bisa berjauhan dengan gadget, tentu akan sangat sulit mencegah anak kecanduan hal serupa juga.

Perhatikan konten.

Batasan aak-anak sampai berusia 9 tahun, akses mereka ke internet masih sepenuhnya harus dikendalikan oleh orang tua. Akan lebih baik jika memprioritaskan program-program pendidikan dan situs yang dapat membantu pertumbuhan dan beragam skill anak.

Terkait dengan hal itu, tentu sebisa mungkin jangan biarkan anak memakai gadget untuk mengakses konten, seperti game, bernuansa kekerasan.

Tentukan lokasi/waktu bebas internet dan gadget.

Sebaiknya orang tua juga membuat restriksi mengenai penggunaan gadget. Misalnya tak boleh dipakai di dalam kamar karena merupakan tempat istirahat dan tidak boleh ada gadget di atas meja makan ketika sedang makan bersama keluarga. American Academy of Pediatrics juga menyarankan untuk menjauhi perangkat digital satu jam sebelum tidur.

Baca juga  Tips Berkendara Aman di Jalan Toll.

Beri pendampingan.

Gadget sebenarnya punya banyak hal positif. Sebagai orang tua, salah satu peran yang bisa kamu lakukan adalah jangan pernah bosan memberikan pendampingan berhubungan dengan dunia digital yang juga bisa sebagai tempat menggali ilmu. Secara bersamaan, kamu dapat memberikan petuah bahwa penggunaan gadget yang berlebihan juga tidaklah baik.

Bijak Dalam Bermedsos.

Anak-anak tidak disarankan memakai media sosial (medsos) atau jejaring sosial lainnya hingga berusia 12 tahun. Sampai pada titik itu, peran orang tua sangat diperlukan untuk menanamkan prinsip-prinsip dalam berkomunikasi di internet.

Selain itu, disarankan juga agar orang tua tidak berteman dengan anaknya di jejaring sosial apalagi sampai berkomentar pada posting dan foto mereka. Hal ini dilakukan demi memperkenalkan privasi, dan memberi sebuah kepercayaan kepada anak-anak.

Bekali informasi mengenai risiko dan bahaya internet.

Anak-anak juga harus dibekali mengenai risiko dan bahaya yang mengancam di dalam internet, apalagi saat nanti sudah beranjak dewasa sehingga tidak membutuhkan pengawasan orang tua lagi saat memakai gadget

Orang tua juga disarankan untuk mulai memberikan penjelasan detail mengenai cara mengatasi cyberbullying, bahayanya membuka akses dalam informasi personal, konten-konten yang negatif, dan hal-hal yang akan diunduh. Anak-anak perlu dibekali informasi mengenai keberadaan jejak digital sehingga tak boleh lagi sembarangan beraktvitas di dunia maya.

Anak juga perlu tahu bahwa segala sesuatu yang mereka temukan di internet pun harus disikapi dengan sangat berhati-hati dan bijak, terkait maraknya berita hoax dan semacamnya.

Jangan pernah bosan menekankan kepada anak bahwa ia bisa curhat apa saja kepada orang tua, secara khusus terkait dengan hal-hal dalam dunia digital dan internet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: