Ada delapan nyawa melayang dan menjadi mangsa gerakan revolusi yang digaungkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Enam di antaranya adalah jenderal TNI, dua lainnya merupakan pengawal dan puteri dari seorang jenderal yang selamat dari percobaan penculikan dan pembunuhan tersebut. Satu korban lainnya lagi dari kepolisian, yaitu KS Tubun.

Penculikan dan pembunuhan yang dilakukan pada 30 September itu tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di Yogyakarta. Di Yogyakarta peluru dari pasukan Cakrabirawa juga merenggut nyawa komandan Korem 072/Pamungkas serta kepala staffnya. Mereka adalah Brigjen TNI Katamso dan Kolonel Sugiyono yang tewas setelah dihabisi tanpa ampun di Kota Pelajar.

Operasi pembantaian yang dikomandoi oleh Letkol Untung itu bergerak atas dasar tuduhan, bahwa para jenderal telah membentuk Dewan Jenderal yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno. Sebagai bentuk penghormatan, 10 dari 11 korban revolusi PKI yang gugur tersebut kemudian diberikan tanda penghormatan sebagai Pahlawan Revolusi dan Anumerta.

Berikut ini rangkuman profil singkat tujuh pahlawan revolusi dan tiga korban PKI yang mendapat anugerah anumerta, serta data diri Ade Irma yang kami susun dari berbagai sumber.

1. Jenderal Ahmad Yani.

historia.id

Jenderal Ahmad Yani lahir pada tanggal 19 Juni 1922 di Purworejo. Ia mengenyam pendidikan formal di HIS (sekolah setingkat SD), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/setingkat Sekolah Menengah Pertama) dan AMS (Algemne Middelberge School/setingkat Sekolah Menengah Atas).

Karir militernya dimulai saat ia mengikuti wajib militer yang dicanangkan Pemerintah Hindia Belanda di Kota Malang. Ketika Jepang menduduki Indonesia, Ahmad Yani bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA).

Di bidang militer, Ahmad Yani mengantongi sederet prestasi. Ia pernah menahan Agresi Militer pertama dan kedua Belanda. Prestasinya pun kian bersinar terang setelah memimpin pasukan, melumpuhkan pemberontak DI/TII, Operasi Trikora di Papua Barat serta Operasi Dwikora dalam menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Catatan prestasi yang mengagumkan itu mengantarkan Ahmad Yani menjadi seorang Menteri/Panglima Angkatan Darat. Saat itu ia menolak usulan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menginginkan dibentuknya Angkatan Kelima yaitu dipersenjatainya buruh dan tani.

Keberanian Jenderal Ahmad Yani menentang PKI membuatnya masuk dalam target penculikan dan pembunuhan oleh PKI dalam Gerakan 30 September. Saat penculikan, pasukan Cakrabirawa menembaki tubuh Jenderal Ahmad Yani hingga berlubang. Dengan tubuh yang penuh dengan luka tembak, jenazahnya dibawa serta dibuang ke dalam sumur di Lubang Buaya.

Baca juga  Jemuran Baju Terbaik

2. Letjen Suprapto.

tirto.id

Jenderal yang lahir di Purwokerto pada 2 Juni 1920 ini merupakan lulusan MULO dan AMS Yogyakarta. Sepanjang menjadi seorang anggota TNI, ia sering dipindah tugaskan. Ia juga pernah menjadi Kepala Staff Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Kota Semarang, menjadi Staff Angkatan Darat di Jakarta, dan kembali di Kementerian Pertahanan.

Pasca pemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) usai, Suprapto kemudian dipindah ke Medan untuk menjadi Deputi Kepala Staff Angkatan Darat di wilayah Sumatera. Suprapto merupakan salah satu Perwira Tinggi yang bertentangan dengan pemikiran pentolan PKI yaitu DN Aidit, yang bersikeras ingin mempersenjatai buruh dan tani dengan membentuk Angkatan Kelima. Alasan sebab itulah yang membuat Suprapto masuk dalam daftar jenderal yang harus dibunuh.

3. Letjen MT Haryono.

tirto.id

Merupakan Putra seorang asisten Wedana di Gresik. Ia lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924. MT Haryono menimba ilmu di ELS (setingkat sekolah dasar), HBS (setingkat dengan sekolah menengah umum) dan Ika Dai Gakko (sekolah kedokteran pada masa pemerintahan Jepang) di Jakarta.

Sayangnya, ia tidak sampai menyelesaikan pendidikan kedokteran itu. Jenderal berbintang tiga ini dikenal sebagai orang yang sangat cerdas. Seperti Mohammad Hatta, MT Haryono fasih dalam berbicara sejumlah bahasa asing, seperti Jerman, Inggris, dan Belanda.

Tak heran ia pun menjadi acap kali ditunjuk menjadi perwira penyambung lidah dalam setiap perundingan. Seperti pada saat Konferensi Meja Bunda (KMB), Haryono dipilih sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Sebelum bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Haryono sudah aktif berjuang dengan para pemuda mempertahankan kemerdekaan. Ia juga vokal menentang PKI dan kroninya. Namanya pun akhirnya masuk dalam daftar jenderal yang akan diculik.

4. Letjen Siswondo Parman.

tribunnews.com

Perwira tinggi lainnya yang bersikeras menentang ide DN Aidit mempersenjatai buruh dan tani adalah Letjen S Parman. Ia merupakan seorang tentara intelijen masuk ke dalam daftar penculikan karena mengetahui semua rencana dan gerak-gerik PKI.

Sebenarnya, S Parman cukup dekat dengan PKI mengingat tugasnya sebagai intelijen negara. Ia juga mengetahui beberapa kegiatan rahasia PKI. Namun, ketika ia ditawari bergabung dengan PKI, jenderal kelahiran Wonosobo, 4 Agustus 1918 itu menolak paham komunis.

Kejamnya lagi, masuknya nama S Parman dalam daftar jenderal yang akan dibunuh datang dari kakak kandungnya sendiri, Ir Sakirman. Sakirman saat itu merupakan salah satu petinggi PKI, ia sering berselisih paham dengan adiknya. Lantas, pertengkaran kakak beradik itu pun berujung dengan dirampasnya nyawa S Parman.

Baca juga  Makanan Pengganti Nasi, Cocok Untuk Diet.

5. Mayjen D I Pandjaitan.

tagar.id

Ia adalah salah satu otak lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bersama pemuda lain, ia membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Aktif di TKR membuat kariernya cepat meroket. Diawali dari menjadi komandan batalyon, kariernya merangkak hingga menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, kemudian menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatra dan Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Terakhir, ia menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat. Sebagai Perwira Tinggi, pria kelahiran Balige, Sumatra Utara pada 19 Juni 1925 itu menjadi target penculikan dan pembunuhan oleh PKI. Sayangnya kematiannya mengenaskan. Maut menjemput Pandjaitan ketika sekelompok anggota PKI menyergap rumahnya. Pelayan serta ajudannya juga dihabisi.

Tahu ajalnya sudah dekat, Mayjen Pandjaitan lantas menemui tentara PKI dengan mengenakan seragam militer lengkap. Tubuhnya yang tegap pun akhirnya diberondong peluru dan jenazahnya diseret ke Lubang Buaya.

6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.

nasional.okezone.com

Jumat dini hari, pada tanggal 1 Oktober 1965, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo diculik oleh sejumlah pasukan Cakrabirawa. Ia kemudian diseret ke markas PKI di Lubang Buaya. Setelah disiksa, Sutoyo lalu dibunuh dan jenazahnya dibuang ke dalam sumur bersama dengan lima jenderal lainnya.

Mayjen Sutoyo lahir di Kebumen pada tanggal 28 Agustus 1922. Tahun 1945, Sutoyo bergabung dengan militer sebagai Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang merupakan sebagai cikal bakal Polisi Militer. Kariernya dalam dunia militer dimulai dengan menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, Komandan Polisi Militer.

Kariernya perlahan mulai menanjak hingga ia dipercaya sebagai inspektur kehakiman/jaksa militer utama. Sayangnya, Sutoyo dituding ikut serta dalam membentuk Dewan Jenderal sehingga namanya masuk ke dalam daftar perwira tinggi yang harus dihabisi.

7. Kapten Pierre Tendean.

tribunnews.com

Perwira yang baru berusia 26 tahun ini tewas diberondong timah panas oleh senjata Cakrabirawa. Ia menjadi martir Jenderal Abdul Haris Nasution yang pada saat itu menjadi incaran PKI untuk dibunuh. Ajudan Jenderal Nasution itu lahir pada tanggal 21 Februari 1939.

Karier militernya dimulai dengan menjadi seorang intelijen. Ia pernah ditugaskan untuk menjadi mata-mata ke Malaysia selama konfrontasi Indonesia-Malaysia. Pada peristiawa G30S, Pierre mengaku sebagai Jenderal Nasution dan ia kemudian ditangkap serta dibawa oleh pasukan PKI ke Lubang Buaya. Di Lubang Buaya Pierre lalu dibunuh dan dimasukan ke sumur tak terpakai bersama 6 Perwira Tinggi Angkatan Darat lainnya. Pierre pun dianugerahi sebagai Pahlawan Revolusi.

Baca juga  Pompa ASI Terbaik

8. Brigadir Jenderal TNI Anumerta Katamso Darmokusumo.

tirto.id

Korban kekejian PKI di Yogyakarta adalah Brigjen Katamso. Jenderal yang lahit di Sragen, 5 Februari 1923 ini diculik pada saat bertugas di Kota Yogyakarta. Tubuhnya dipukuli menggunakan kunci mortir motor. Kemudian tubuhnya dimasukkan ke dalam sebuah lubang yang telah disiapkan di sekitar Kentungan, Sleman, Yogyakarta. Jenazahnya baru ditemukan beberapa hari kemudian setelahnya, tepatnya pada 21 Oktober 1965.

9. Kolonel Infanteri Anumerta R Sugiyono Mangunwiyoto.

tirto.id

Nasib mengenaskan juga menimpa Kolonel Sigiyono. Perwira yang juga pernah menjadi ajudan Letnan Kolonel Soeharto di zaman revolusi ini gugur juga bersama Brigjen Katamso setelah kepalanya dihantam kunci mortir motor dan batu.

Sugiyono yang ikut serta beraksi dalam Serangan Umum 1 Maret, lahir di Gunung Kidul, Yogyakarta, 12 Agustus 1926. Bersama dengan Brigjen Katamso, jenazahnya dimasukkan ke dalam lubang yang sama dan baru ditemukan setelah 20 hari kemudian.

10. Ajun Inspektur Polisi II Anumerta Karel Satsuit Tubun (KS Tubun).

sosok-tokoh.blogspot.com

KS Tubun merupakan satu-satunya satu-satunya perwira di luar TNI yang ikut tewas pada malam G30S PKI. Lahir di Maluku Tenggara, pada tanggal 14 Oktober 1928, hidupnya harus berakhir saat memergoki para pasukan Cakrabirawa yang mengepung rumah Jendera AH Nasution.

KS Tubun saat itu bertugas sebagai ajudan Johanes Leimena, menteri dalam kabinet Presiden Sukarno. Rumah Leimena secara kebetulan bertetangga dengan rumah Jenderal Nasution. Saat terjadi pengepungan rumah Jenderal Nasution, KS Tubun mendengar sebuah suara tembakan. Ia pun kemudian melepaskan tembakan ke arah pasukan Cakrabirawa.

Karena kalah dalam jumlah dan senjata, tubuhnya pun diberondong oleh peluru Cakrabirawa. KS Tubun gugur, namun tubuhnya tidak ikut dibawa ke Lubang Buaya.

11. Ade Irma Suryani Nasution.

grid.id

Ade Irma yang merupakan putri bungsu Jenderal Abdul Haris Nasution ini telah menjadi tameng untuk ayahnya. Ia gugur setelah ditembak oleh tentara Cakrabirawa dari jarak dekat. Ade Irma lahir pada tanggal 19 Februari 1960 dan meninggal dunia di usia 5 tahun. Nyawa Ade tidak tertolong setelah enam hari dirawat. Ia dimakamkan di kawasan kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here