terakurat.com– Gusti Roro Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani atau biasa disapa Gusti Nurul. Beliau merupakan seorang Putri Keraton Solo yang mendapat julukan sebagai Kembang Mangkunegaran. Julukan tersebut disandangnya karena Gusti Nurul sangat cantik dan menjadi idaman banyak pria pada masanya. Para pria yang mendambakannya bahkan sekelas presiden pertama Republik Indonesia – Ir. Soekarno, Sutan Syahrir,hingga Sultan Hamengkubuwono IX. Sayang, tak satu pun dari para petinggi negara tersebut yang berhasil meluluhkan hati seorangnya.

Kembang Mangkunegaran ini tidak cuma menarik karena kecantikan fisik atau pandai menari, tapi juga pemikirannya yang selalu lebih maju dibandingkan perempuan lain pada masa itu. Salah satu prinsip hidup Gusti Nurul yang terkenal adalah keteguhan hati untuk menolak poligami. Pejuang-pejuang cintanya yang punya banyak istri seperti Soekarno dan Sultan Hamengkubuwono IX, langsung gugur dan tidak memenuhi kriteria Gusti Nurul. Demi prinsip hidup yang diyakininya itu, Gusti Nurul berani tetap melajang hingga usianya mencapai 30 tahun. Dimana pada saat itu semua perempuan diharapkan sudah menikah pada usia 20 tahun.

Berikut ini pesona yang di pancarkan seorang Gusti Nurul semasa hidupnya:

Mampu Memikat Ratusan Pemuda Solo.

Meski tumbuh di balik tembok keraton, namun sang putri yang bersekolah di sekolah Belanda memiliki pemikiran yang cenderung melampaui zamannya bahkan cenderung modern.

Wanita kelahiran 17 September 1921 ini gemar berkuda, berenang, dan amat mahir bermain tenis. Padahal, berkuda adalah sesuatu yang saat itu amat ditabukan untuk seorang putri keraton.

Dalam cerita pada masanya, jika Gusti Nurul sedang berlatih mengendarai kuda di lapangan depan istana, ratusan pemuda di Solo rela berdesakan menonton agar bisa melihat paras Gusti Nurul secara langsung.

Baca juga  Cerita Tentang Kejujuran Sebagai Motivasi dan Edukasi Pada Anak

Menolak Cinta 4 Pahlawan Indonesia.

Bisa dibilang, berkat pesonanya yang luar biasa, Gusti Nurul pernah dicintai para pria hebat di sepanjang sejarah Indonesia, yaitu seorang presiden, perdana menteri, komandan TNI AD hingga Sultan sekaligus.

Sebut saja sosok Soekarno, Sutan Sjahrir hingga Sultan Hamengkubuwono IX, dan Kolonel GPH Djatikusumo pun bertekuk lutut atas kecantikan sang Putri. Namun mereka semua harus rela patah hati. Sang putri menolak dengan pertimbangan tidak ingin dimadu.

Ya, meski dibesarkan di dalam istana kerajaan lekat dengan pandangan tradisional, Gusti Nurul lebih memilih hidup dengan pemikiran yang melampaui jamannya. Dia menentang keras praktik poligami bahkan hingga usia 30 tahun ia belum menemukan belahan jiwa. Tentu usia yang terlalu tua bagi para gadis di zaman itu.

Akhirnya pada 24 Maret 1951, Gusti Nurul melabuhkan cintanya pada seorang lelaki beruntung bernama Raden Mas Surjosularso, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Pusenkav di Bandung. RM Surjosularso dikenal sebagai sosok perwira yang sederhana dan tanpa ambisi mengejar jabatan.

Mendapat Julukan ‘Kembang dari Mangkunegaran’.

Di masa mudanya, nama Gusti Nurul begitu tersohor karena kecantikan, kecerdasan, dan keteguhannya memegang sikap bahkan ia sampai dikagumi oleh Ratu Belanda, Wilhelmina.

Pada tahun 1937, Gusti Nurul memenuhi undangan Kerajaan Belanda untuk menari di istana kerajaan dalam rangka pernikahan Putri Juliana. Sang Putri dari Solo ini menari sendiri tanpa iringan gamelan karena di Belanda tidak mempunyai alat itu.

Alhasil, iringan alunan gamelan dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan secara langsung ke Belanda melalui Solosche Radio Vereeniging, radio pertama di Indonesia yang dirintis Sang Putri, kini menjadi Radio Republik Indonesia (RRI).

Baca juga  Biografi Steve Jobs - Pendiri Apple

Ratu Wilhelmina pun terkesima dengan bakat dan kecerdasannya, hingga Sang Ratu memberinya sebutan ‘De Bloem van Mangkunegaran’ yang berarti Kembang dari Mangkunegaran.

Perempuan yang Berprinsip dan Cerdas!

Gusti Nurul lahir pada 17 September 1921 dan merupakan anak tunggal dari pasangan KGPAA Mangkunegara VII dan Gusti Ratu Timur, putri ke-12 Sultan Hamengkubuwono VII. Dibalik pribadinya yang santun dan menjunjung tinggi kerukunan, sang putri dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan kritis. Dari pemikiran kritis yang juga didorong oleh realita disekelilingnya, dimana hampir semua perempuan termasuk neneknya sendiri merupakan istri ke-sekian, Gusti Nurul mulai menyuarakan keberatan terhadap poligami dari usia muda. Banyak juga kalangan yang berpendapat kalau sosok dan pemikiran Gusti Nurul inilah yang menginspirasi pangeran-pangeran Mataram selanjutnya untuk tidak berpoligami.

Menolak Poligami.

Paras yang cantik, cerdas, luwes bergaul, dan pandai berkesenian, menjadikan Gusti Nurul adalah idaman para pria kelas atas. Sang Kembang Mangkunegaran bahkan mampu membuat hati Sang Proklamator – Soekarno jatuh hati. Namun, sang putri menolak cintanya lantaran berpegang teguh pada prinsipnya yang enggan dipoligami. Soekarno bahkan sampai meminta pelukis kenamaan tanah air – Basuki Abdullah untuk melukis sang putri keraton. Lukisan tersebut kemudian dipajang di ruang kerja sang presiden di Istana Cipanas.

Tak hanya Soekarno, Sutan Syahrir yang dijuluki sebagai Bapak Diplomasi Indonesia juga tercatat begitu gencar memikat hati sang putri. Sebagai bagian dari usaha untuk meluluhkan hati sang putri, Syahrir bahkan sampai bela-belain mengirimi sang putri hadiah, dari mulai tas hingga jam tangan. Tak lupa juga menyelipkan surat. Sayangnya itu tak mampu membikin sang putri luluh. Selain Soekarno dan Syahrir, tercatat pula beberapa pria kalangan atas lainnya yang berupaya untuk meluluhkan hati sang putri, yakni Sultan Hamengkubuwono IX dan Kolonel GPH Djatikusumo. Bukan hanya enggan dipoligami, Gusti Nurul pun enggan diperistri oleh politisi karena menurutnya terlalu berisiko.

Baca juga  Move On dari Mantan, Cara Paling Jitu !

Pilihannya Jatuh Pada R.M. Soerjo Soejarso.

Kala itu banyak orang yang penasaran tentang siapakah yang pada akhirnya dapat meluluhkan hati sang putri keraton. Dan pilihan sang putri pun jatuh pada R.M. Soerjo Soejarso. Seorang tentara berpangkat Letnan Kolonel yang juga duda beranak satu. Lelaki yang dikenal santun dan rendah hati. Setelah menikah, sang putri bersama suaminya kemudian pindah ke Jakarta dan kemudian Bandung. Mereka hidup dengan bahagia di luar dinding keraton. Dari Gusti Nurul kita bisa belajar bahwa memegang teguh prinsip itu tak akan sia-sia. Meski harus menunggu hingga 30 tahun untuk menikah, namun akhirnya ia bertemu dengan jodoh yang setia kepadanya. Seorang pria yang sepanjang hayat tak pernah menduakannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here