terakurat.comsistem-kesehatan-kuba– Seperti yang telah diketahui Kuba telah mengirimkan puluhan dokter ke Italia untuk mengatasi Pandemi Corona. Setibanya di bandara para dokter tersebut disambut tepukan tangan yang meriah oleh warga. Pertolongan para Tim Medis dari Kuba ini sepertinya sudah sangat di tunggu oleh warga Italia, terutama Lambordia yang memiliki dampak paling parah. Mengapa Tim Medis Kuba? Berikut beberapa alasannya!

Kuba Memiliki Prestasi Kesehatan yang Bagus.

Prestasi ini dibuktikan dari Angka kematian bayi di Kuba berada dibawah 5 (4.2) per 1000 kelahiran. Bandingkan dengan AS yang masih 5.52 per 1000 kelahiran. Atau Indonesia yang masih 25.5 per 1000 kelahiran.

Tidak ada kasus gizi buruk di Kuba. Tahun 2006, hal tersebut dilaporkan UNICEF yang menyebut Kuba bebas gizi buruk. Jumlah balita stunting juga di bawah 5%.

Program imunisasi di Kuba juga mencapai hingga 99%. Berkat Program Imunisasi tersebut Kuba terbebas dari Difteri, Campak, Pertussis, Rubella, Polio, Tetanus, Demam Tifoid, dan lain-lain. Hebatnya lagi, sebagian besar vaksin yang dipakai Kuba adalah hasil temuan dan produksinya sendiri.

WHO menetapkan Kuba sebagai negara pertama di dunia, yang berhasil menghapus penularan HIV dan Sipilis dari ibu ke anaknya.

Pelayanan Kesehatan Gratis.

Mungkin hampir semua negara di dunia, menyebut bahwa kesehatan sebagai hak dasar manusia. Namun, hanya sedikit negara yang benar-benar merealisasikannya. Satu diantaranya adalah Kuba.

Di Kuba, layanan kesehatan bersifat universal dan gratis. Karena gratis itulah, semua orang yang tinggal Kuba bisa mengakses layanan kesehatan yang berkualitas.

Jadi, tidak heran kalau 99% kelahiran anak di Kuba dilakukan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan milik negara. Sistem kesehatan di Kuba bahkan bisa menjangkau 100% penduduknya, tanpa diskriminasi.

Baca juga  Lembaga Indonesia yang Berperan Penting Dalam Mengatasi Bencana Alam!

“Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati”.

Menariknya, sistim kesehatan yang ada di Kuba memiliki motto: lebih baik mencegah ketimbang mengobati.

Disetiap RT atau RW di Kuba ada yang disebut “consultorio”. Setiap consultorio di Kuba terdiri dari dokter dan beberapa staff, yang akan langsung melayani penduduk di sekitarnya. Setiap consultorio bisa melayani sekitar 1000-1500 pasien.

Consultorio juga didukung oleh policlínicos, yang memastikan pelayanan kesehatan selama 24 jam. Policlínicos ini bisa melibatkan tenaga kesehatan, spesialis dan masyarakat setempat yang terlatih.

Policlínicos ini memberi sekitar 22 jenis layanan seperti rehabilitasi, X-ray, optometri, diabetes, endoskopi, trombolitik, laboratorium klinis, imunisasi, USG, perawatan ibu dan anak, keluarga berencana, hingga perawatan lansia.

Kuba juga memerapkan sistem “Dokter Keluarga”. Jika di Indonesia pasien yang mendatangi dokter, maka di Kuba ini dokter yang mendatangi pasiennya.

Konsep “Dokter Keluarga” berhasil diterapkan oleh Kuba, karena negara komunis ini memiliki tenaga dokter yang melimpah. Kuba bisa menyediakan satu dokter untuk 148 penduduk. Rasio dokternya termasuk yang tertinggi di dunia.

Menciptakan teknologi dan obat-obatan sendiri.

Salah satu konsekuensi dari embargo yang diterapkan oleh pihak Amerika Serikat terhadap Kuba sejak setengah abad yang lalu adalah sulitnya mengakses teknologi kesehatan dan obat-obatan.

Akan tetapi Kuba tidak menyerah begitu saja. Semangat mereka untuk berdikari mampu mendorong Kuba untuk berhasil menciptakan teknologi dan obat-obatan sendiri.

Kuba juga telah menjadi pelopor penemuan vaksin untuk mengatasi Meningitis B. Para ilmuan Kuba juga berhasil mengembangkan teknik pengobatan baru untuk hepatitis B, diabetes, vitiligo, dan Psoriasis.

Saat ini Kuba tengah mengembangkan vaksin Civamax untuk kanker paru-paru, yang bisa mencegah perkembangan tumor dalam paru-paru hingga memperpanjang usia penderitanya. Kini vaksin itu tengah diuji di Amerika Serikat.

Baca juga  Berbagai Tradisi Imlek Di Indonesia.

Pusat Imunologi Molekul di Havana, yang dimiliki oleh pemerintah Kuba, merupakan pencipta Cimavax. Saat ini lembaga tersebut sedang mengembangkan vaksi untuk Meningitis B, Hepatitis B, dan Demam Berdarah.

Fasilitas Kesehatan yang Maju.

Sistim kesehatan di Kuba beroperasi melalui tiga tahapan. Pada tahapan pertama, layanan kesehatan dasaryang ditunjukan untuk seluruh penduduk melalui Consultorio dan Policlínicos.

Tahap kedua, Kuba memiliki 151 rumah sakit besar yang melayani segala tindakan medis yang tidak bisa diatasi oleh Consultorio dan Policlínicos.

Tahapan yang Ketiga, Kuba memiliki 12 lembaga kesehatan yang memberikan pelayanan khusus, termasuk ikut serta dalam penelitian dan pengembangan teknologi kesehatan.

Tenaga dokter melimpah.

Kuba hanya punya 6000 dokter, sebelum revolusi pada tahun 1959. Separuh diantaranya meninggalkan Kuba saat revolusi meletus.

Saat Revolusi Kuba mencetak dokter besar-besaran. Dengan cara membuka semua sekolah kesehatan di Kuba untuk putra-putri Kuba, tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Hasilnya, dalam 4 dekade, Kuba berhasil mencetak 109.000 dokter. Rasio dokter di Kuba saat ini: 1 dokter melayani 148 penduduk.

Hebatnya lagi, sejak 1998 Kuba mendirikan sekolah kesehatan bertaraf internasional dengan nama Escuela Latinoamericana de Medicina/Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM).

Selain menerima putra-putri Kuba, ELAM juga membuka peluang bagi anak muda dari negara lain. Semuanya tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Berdiri sejak 2014 lalu, ELAM sudah berhasil mewisuda 20.000 orang dari 123 negara, termasuk Malaysia dan Timor leste.

Kuba Menjadi Garda Terdepan Dalam Solidaritas Internasional/Kemanusiaan Dunia.

Tahun 1960, saat masih terseok-seok membangun negerinya, Kuba sudah mengirim dokter ke Chili yang telah diluluhlantakkan oleh gempa bumi. Tahun 1963, Kuba juga mengirim dokter ke Aljazair.

Fidel Castro menyebut Tim Medis Kuba “tentara berseragam putih”. Jika negara imperialis mengirim tentara ke dunia ketiga, maka Kuba mengirim dokter dan tenaga kesehatannya.

Baca juga  Manfaat Dan Jenis Vaksin di Indonesia.

Sejak itulah, demi nama solidaritas dan rasa kemanusiaan, Kuba mengirimkan “tentara berseragam putih” ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Indonesia saat Aceh dan Yogyakarta juga diguncang gempa.

Saat Haiti diguncang gempa dahsyat, Kuba merupakan negara pertama yang mengirim dokter-nya untuk menolong masyarakat di sana. Sampai membuat Presiden Haiti saat itu, Rene Preval, berkata: “Bagi rakyat Haiti, pertolongan pertama datang dari Tuhan dan setelah itu dokter Kuba.”

Tahun 2013, saat Afrika barat diserang oleh virus Ebola, dokter-dokter Kuba jugalah yang berada di garis depan. Hingga WHO memberi ucapan terima kasih khusus kepada Kuba.

Dalam satu dekade ada 3,5 juta orang di Amerika Latin yang berhasil dipulihkan penglihatannya oleh dokter-dokter Kuba secara gratis.

Saat ini, ada sekitar 50.000-an tenaga medis profesional dari Kuba yang bekerja di 66 negara di dunia. Termasuk 2500-an dokter yang bekerja secara sukarela di belahan Afrika.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here